Belajar Dari Semut
September 17, 2008
Malu aku malu…
pada semut merah..
yang berbaris di dinding….
Lagu yang dinyanyikan oleh Alm.Chrisye itu sempat dinyanyikan oleh Sahabat RisTIE sewaktu berbuka puasa tadi..saya mendapatkan sebuah hal menarik mengenai semut tersebut. Lalu saya mencoba menelaah sebuah baris dari lagu tersebut yaitu “yang berbaris di dinding”. Kenapa semut berbaris? tak ada yang nyalip satu sama lain? semua itu ternyata karena TEAMWORK! semut merupakan binatang dengan teamwork yang tinggi. mereka bergotong royong saling membantu dalam berbagai hal. Membawa makanan, membuat sarang, dll. Dan sayapun menemukan sebuah fenomena lagi mengenai semut. Ternyata semut merupakan pengambil keputusan yang hebat.
Selama ini semut diketahui sebagai makhluk sosial dan pintar. Jadi tak heran kalau semut menjadi pengambil keputusan yang andal. Koloni semut terbukti dapat mengambil keputusan dengan cepat saat berburu mangsa, tidak hanya menentukan jalur lalu lintas dari sumber makanan ke sarang. Ini tebukti saat iring-iringan awmut berhasil beradaptasi dengan lingkungan sekitarnya saat iring-iringannya dihambat.
Untuk menguji kemampuan semut menghadapi masalah, Audrey Dussutour dan timnya dari Universitas Sydney, Australia, meletakkan lembaran plastik yang sangat dekat dengan permukaan jalur rombongan semut pemotong daun yang sedang mengangkut mangsa. Meski ruang di bawah lembaran plastik masih dapat dilalui semut, potongan daun mustahil melaluinya. Agar semut tidak mencari jalan memutar, jalur sekitarnya ditutup.
“Mengejutkan, kemacetan tidak terjadi karena semut-semut tersebut segera belajar untuk memotong-motong daun menjadi lebih kecil,” ujar Dussutour. Setelah 24 jam, semut tidak hanya memotong melainkan menggulungnya sehingga lebih mudah dibawa di bawah lapisan plastik yang terlalu sempit.
Hal tersebut menunjukkan bahwa semut benar-benar pengambil keputusan yang hebat. Mereka tidak hanya beradaptasi, namun mengembangkan strategi yang lebih baik. Para peneliti menyatakan, strategi tersebut mungkin dikembangkan dari proses yang disebut social fasilitation (kemudahan sosial).
Dalam hal ini, saat plastik menghalangi, beberapa ekor semut yang sebelumnya membawa daun ukuran besar akan memotong-motongnya agar sesuai dengan ukuran lorong dan tetap berada di dalam lorong. Sementara semut yang belum membawa daun akan bertemu dengannya dan mendapat informasi tersebut.
“Ibarat banyak orang makan es krim, lalu Anda ingin membelinya juga,” ujar Dussutour. Namun, untuk mengetahui bagaimana strategi mulai terbentuk, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Para peneliti harus melakukan pengamatan lebih lanjut kepada masing-masing individu, misalnya dengan menandainya menggunakan pewarna, untuk melihat proses pengambilan keputusan itu.
Dari penjelasan di atas, ternyata Allah memang menciptakan semua makhluk di muka bumi ini penuh dengan hikmah. Dan sebenarnya pun semua itu diciptakan untuk manusia untuk dipelajari. Agar manusia menjadi kaum yang bersyukur dan berfikir.
disadur dari :kompas.com
Entry Filed under: cerita dena. .





Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed